Notification

×

Adv

NEGARAWAN NEWS

Tag Terpopuler

SALAH BERBAHASA DAMPAKNYA HILANG MINAT DAN MOTIVASI : FORENSIK LINGUISTIK

Kamis, 05 Februari 2026 | Februari 05, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-05T10:16:06Z
SALAH BERBAHASA DAMPAKNYA HILANG MINAT DAN MOTIVASI : FORENSIK LINGUISTIK
Penulis: Fifi Safreni, 05 Februari 2026

Di dunia pendidikan instruksi adalah bagian dari komunikasi. Instruksi dari guru kepada murid selalu terjadi dalam aktifitas belajar. Dan bahasa yang dipakai ketika memberikan instruksi adalah kata kerja yang bermakna perintah, arahan, ajakan, dorongan, semangat dan motivasi. 

Namun kepada siapa instruksi itu diberikan menjadi hal penting. Dikatakan penting karena tujuan sebuah instruksi umumnya pemberi instruksi menginginkan penerima perintah melakukan suatu pekerjaan atau melaksanakan suatu tugas.

Maka dalam komunikasi di lingkungan pendidikan, menggunakan kalimat positif menjadi hal yang utama. Mengapa demikian? Dikarenakan murid adalah peserta didik yang akan dibentuk  karakter dan intelektulitasnya dengan bantuan guru. Artinya jika guru salah menggunakan bahasa walau maknanya tidak negatif maka akan berpotensi hilangnya minat dan motivasi. 

Dalam perspektif forensik linguistik, makna instruksi yang memberi makna menjatuhkan, membedakan, melemahkan, mengucilkan sebaiknya dihindari. Seperti yang terjadi di sebuah sekolah dalam proses latihan lomba menari di murid usia dini yang pesertanya beberapa murid perempuan yang memiliki pemahaman dan kemampuan berbeda – beda. 

Beberapa pernyataan sang guru sebagai berikut: 

1. “Si Ana itu ga fokus, nanti dipanggung dia akan menari dengan gayanya sendiri, ga bisa dia, apalagi di depan”. 

2. ‘Hei Eca, putarnya begini kok kamu begitu pula’.

3. ‘Kalau bisa si Michelle ini ga usah ikut bisa ga?’ 

4. “ Ihh Ziel, udah berapa kali ms bilang, tangannya buka tutup begini bukan begitu” “ coba kamu lihat ms, , kok asik buka gitu aja sih”. Dengan suara datar dan ekspresi kesal.

Pesan itu menjadi negatif sampai di telinga, hati dan fikiran murid. Pengaruhnya adalah setelah mereka melakukan berlatih berhari – hari, yang pada awalnya mereka yang ceria dan semangat dalam perjalanannya seorang murid meminta ibunya menyampaikan kepada guru untuk mundur karena merasa tidak mampu menari seperti yang diminta guru. 

Dan tidak lama kemudian seorang murid lainnya menangis tidak mau berlatih karena takut dimarahi. Maknanya dengan usia mereka dibawah 6 tahun adalah usia dimana masih sangat rentan dikarekan pemahamnnya masih lemah. 

Mereka belum memahami mengapa harus ikut dalam lomba?, mengapa harus menang?, mengapa harus melakukan gerakan menari yang mereka anggap selalu salah mereka lakukan?, dan mengapa gurunya selalu kesal?. Faktanya mereka tidak lagi semangat dalam sesi latihan.
 Minat dan motivasi tidak lagi sama seperti di awal latihan. 

Dalam kajian bahasa maka diforensik lingusitik pragmatic yaitu makna kata terhadap siapa yang berbicara dan psikolinguisitk yaitu bagaimana tindak tutur berdampak pada psikis dari penutur dan pendengar diperlukan dalam hal ini. dimana penutur atau guru yang memahami muridnya dan psikis seorang anak perlu diketahui agar ketika mereka menerima pesan mental mereka tidak down.

Memforensik kalimat dibawah dan di sarankan menggunakan kalimat  yang bermakna positif walaupun tujuan sang guru agar murid tidak melakukan hal yang dia anggap harus diperbaiki, itu seperti: 

Si Ana itu ga fokus, nanti dipanggung dia akan menari dengan gayanya sendiri, ga bisa dia apalagi di depan”. Sebaiknya guru berkata: Ana kamu mau bantu ms untuk lomba menari?, nah jika mau nanti gerakannya fokus dan sama seperti yang ms ajarkan ya biar kita menang. Posisi kamu di depan ya, kan kamu cantik nak”, dan 

Hei Eca, putarnya begini kok kamu begitu pula’. Guru bisa memotivasi dengan berkata “Eca, lihat ms, ayo sama – sama kita putar, putar yang cantik ayo” (sambil tersenyum dan mencontohkan). dan

“ Ihh Ziel, udah berapa kali ms bilang, tangannya buka tutup begini bukan begitu” “coba kamu lihat ms, , kok asik buka gitu aja sih” Dapat diganti perkataan dengan: “Bisa buat gerakan begini nak, ayo coba, nah itu kan bisa. Ihh kerennya ayo ulangi lagi terus sampai kamu lancar”. 

Tutur yang demikian sangat berdampak, dengan tidak langsung guru memberikan pesan untuk menghilangkan ketakukan murid dikatakan salah, mereka akan merasa ternyata gerakannya mudah dan mereka bisa, lalu gurunya bangga karena dikatakan bagus dan keren. 

Kalimat yang sederhana dan sangat terjangkau untuk mereka mengerti telah membantu mereka memahami bentuk instruksi walau berupa gerakan yang harus mereka lakukan. Seringnya memotivasi akan menimbulkan percaya diri mereka untuk berkompetisi karena mereka merasa akan berlatih untuk memenangkan lomba.

Perlunya seorang guru sebagai aktor pendidik untuk menguasai bahasa – bahasa yang memiliki pesan yang positif. Guru harus belajar dan memperkaya kosa kata terutama yang bermakna untuk memotivasi. 

Guru hendaknya memiliki kemampuan untuk memaklumi kemampuan murid itu tidak sama. Maka jika itu terwujud, guru akan terbantu meningkatkan minat dan semangat terutama karena usia mereka masih sangat muda. Jika kemampuan penyampaian pesan positif dapat di lakukan selanjutnya guru akan sangat mudah untuk mengarahkan murid walau maksud guru adalah untuk merubah hal yang negatif sekalipun. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update