Notification

×

Adv

NEGARAWAN NEWS

Tag Terpopuler

SIKAP KENEGARAWANAN RAJA TERKAYA DI INDONESIA "SRI SULTAN HAMENGKUBUWONO IX" DI AWAL KEMERDEKAAN INDONESIA

Minggu, 28 Desember 2025 | Desember 28, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-12-28T08:04:30Z
Potret Sebagai Wkl. Presiden 1973
Sultan Yogyakarta Ke IX Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Menjabat Sejak pada 23 Maret 1973 s/d 23 Maret 1978.

Ketika Raja Terkaya Indonesia Memilih Bangkrut demi Rakyatnya

Bayangkan seorang raja yang membuka peti uangnya di tengah kehancuran ekonomi—bukan untuk dirinya, melainkan untuk rakyat yang kelaparan. Ini bukan dongeng. Ini kisah nyata Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Sultan HB IXultan Hamengku Buwono IX bersama para pembesar militer Jepang di Jakarta, 1942. Sumber: Repro Buku Takhta Untuk Rakyat.


Tahun 1945. Indonesia baru saja merdeka, tapi chaos merajalela. Sementara para pemimpin sibuk berebut kursi kekuasaan, satu sosok justru melakukan hal yang dianggap gila: menguras habis kekayaan pribadinya. Bukan untuk istana. Bukan untuk tahta. Melainkan untuk memastikan rakyat Yogyakarta tidak mati kelaparan.


Sultan HB IX bukan sekadar raja simbolis. Ia adalah orang terkaya di Indonesia saat itu. Hartanya? Tak pernah tercatat pasti, tapi cukup untuk membuat siapa pun iri. Warisan kerajaan, sistem feodalisme yang masih berlaku, semua mengalir ke tangannya.


Lalu, apa yang ia lakukan dengan semua itu?

Ia menyumbang 6,5 juta gulden untuk pemerintah republik yang baru lahir. Lima juta gulden lagi untuk rakyat yang menderita. Kalau dihitung dengan nilai hari ini? Rp 20-30 miliar. Langsung digelontorkan, tanpa ragu.

Tapi yang lebih mencengangkan bukan angkanya—melainkan bagaimana ia hidup.


Sri Sultan Hamengkubuwono IX duduk berdampingan dengan Bung Karno.


Raja yang Membeli Es di Pinggir Jalan

1946, Jakarta. Terik matahari menyengat. Sri Sultan baru turun dari kereta di Stasiun Klender. Kehausan menyerangnya.

Ia bisa pergi ke restoran mewah. Bisa memerintahkan abdi dalem membawakan minuman dingin. Tapi tidak. Ia berjalan ke pedagang gerobak es di pinggir jalan, membeli es seperti rakyat biasa, lalu meneguknya di sana juga.

Tanpa pengawal. Tanpa gembar-gembor. Seperti orang biasa yang sedang kehausan.


Sopir Truk yang Ternyata Seorang Sultan

Suatu hari, Sultan HB IX mengendarai Land Rover-nya melewati jalan pedesaan menuju pusat kota. Di tengah jalan, seorang perempuan penjual beras menghentikan truknya, meminta tumpangan ke pasar.


"Bapak bisa bantu angkat beras saya?" tanya perempuan itu polos.


Tanpa pikir panjang, sang Sultan turun dan mengangkat sendiri dua karung besar beras ke truk. Sepanjang perjalanan, mereka mengobrol akrab. Perempuan itu tak tahu bahwa "sopir" yang sedang ia ajak bicara adalah penguasa Yogyakarta.


Sampai di pasar, Sultan menurunkan karung-karung itu satu per satu. Perempuan itu mengulurkan uang upah. Sultan menolak dengan halus.


Dan di sinilah drama dimulai.


Perempuan itu marah besar. Ia mengira Sultan menolak karena merasa upahnya terlalu kecil. "Apa upah saya kurang?!" bentaknya sambil mengomel kesal. Sultan hanya tersenyum dan pergi, tanpa membela diri.


Beberapa saat kemudian, seseorang memberi tahu perempuan itu: "Ibu tahu tidak, sopir yang tadi Ibu marahi itu... Sultan Hamengkubuwono IX."


Perempuan itu langsung pingsan.

Ia harus dibawa ke rumah sakit. Begitu Sultan mendengar kabar itu, ia langsung memacu kendaraannya, datang ke rumah sakit, dan menjenguk sang penjual beras secara pribadi.


Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia. (kabarpalu)


Raja yang Memilih Rakyat di Atas Tahta

Inilah potret seorang raja yang memilih mengosongkan pundi-pundinya agar rakyat tidak menderita. Yang menolak jarak antara tahta dan tanah. Yang hidup bukan sebagai penguasa yang diagungkan, melainkan sebagai manusia yang berdiri sejajar—bahkan merendah—di hadapan rakyatnya.


Di masa ketika banyak pemimpin membangun kerajaan dari penderitaan rakyat, Sultan HB IX memilih jalan sebaliknya: menghancurkan kekayaannya sendiri demi membangun bangsanya.


Dan itulah mengapa, hingga hari ini, namanya tetap dikenang—bukan sebagai raja terkaya, melainkan sebagai raja yang paling dicintai.

(Sumber: CNBC Indonesia)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update